PROFILE SINGKAT LENTERA

*DARI LOKAL MENUJU NASIONAL*

Pendirian Lembaga Ekonomi Santri Nusantara (£€πT€®a) tidak lepas dari upaya melanjutkan perjuangan para tokoh pendahulu. Ditarik jauh ke belakang, tahun 1918 bangsa Indonesia sedang melawan kolonialisme Belanda. Seorang ulama pesantren sekaligus aktivis  pergerakan nasional KH. Wahab Chasbullah bersama 45 Saudagar santri lainnya mendirikan perkumpulan para saudagar yang diberinama Nahdlatut Tujjar  (Kebangkitan Para Saudagar). Perkumpulan ini bertujuan meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan sekaligus melawan penjajahan dan penindasan imprealisme Belanda. Lahirnya Nahdlatut Tujjar merupakan bentuk dari kesatuan dan kebangkitan kaum santri yang menjadi cikal bakal lahirnya Nahdlatul Ulama. Delapan tahun kemudian, pada tanggal 31 Januari 1926 pergerakan kaum santri mencapai puncaknya dengan lahirnya Nahdlatul Ulama, yang dipimpin langsung oleh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syamsuri dan bersama para ulama pesantren lainnya. Terinspirasi dari para Ulama terdahulu, sehingga  kami para santri berinisiatif untuk membuat suatu wadah perekonomian supaya santri tidak hanya lihai dalam mengaji, tetapi pandai pula dalam berekonomi...  tiada lain untuk menjadikan sebuah karakter santri yang mandiri, modern dan siap menjadi garda terdepan dalam membela negeri, tentunya dari lokal menuju nasional bahkan harus bisa mampu menguasai peradaban dunia khususnya wilayah Nusantara, tepat pada tanggal 22 Oktober 2018  di Pesantren Assa'adah Limbangan, telah terbentuk suatu wadah yang bernama *ANIME* (Action Sunthre Maximizing Economy) dalam arti Aksi Santri Membangun Ekonomi yang diplopori oleh seorang santri yang berlogo dibawah ini.

Namun Seiring berjalan nya waktu kurang lebih satu sampai dua tahun, nama tersebut di rubah pada tanggal 12 Juni 2020 berdasarkan Hasil Musyawarah  di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Curug Yang dihadiri dari berbagai wilayah utara, selatan dan sekitarnya.

Berdasarkan hasil istikharah Kyai Muda yang sering dipanggil M Sambas Assyafi’I A E Beliau Mengatakan “Sudah saatnya yang local menuju nasional, bukan berarti kita mengabaikan yang nasional. Sebab di era milenial kita perlu strategy bussines untuk memaximalkan perekonomian di kalangan santri, terkadang masih ada saja santri yang berfikir tradisonal dan kepentingan idealism itu tersendiri. Padahal santri bisa menjadi apa saja yang kita mau, sebab santri sudah mempunyai modal dasar ekonomi yaitu :

1.SIDIQ dalam menjalankan usaha selalu berkomitmen

2.TABLIG jangan mau berbisnis jika tidak ada yang mau disampaikan.

3.AMANAH modal utama dalam berbisnis adalah Kepercayaan. 

4.FATHONAH. Pintar dalam mengemas apa pun jenis bisnis yang dijalankan...

Dan ta'at pada aturan,

Maka kami sepakat untuk menciptakan kemasan baru di era milenial ini yang disebut £€πT€®a (Lembaga Ekonomi Santri Nusantara).  


Pendirian organisasi ini telah diketahui oleh Tubagus Rd Fahmi Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Hidayah Sekaligus Sekjen DPW HIPSI, untuk menumbuhkan wirausaha di kalangan santri dan mengokohkan jejaring ekonomi antar warga nahdiyyin dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tantangan ekonomi masa lalu tentu saja berbeda dengan masa kini yang lebih kompleks. Dapat disebutkan, tantangan terpenting saat ini adalah persaingan makin ketat dan terbuka sampai pada skala global, serta daya dukung sumberdaya alam yang makin turun. Di tengah “kegaduhan” ekonomi itu (walau terasa senyap), di situlah warga nahdliyin, khususnya para santri hidup.


Maka, dalam skala mikro £€πT€®a ingin memberi peluang kepada para santri untuk secara bersama-sama, menyatukan potensi mengangkat harkat ekonominya sendiri. Dengan demikian mereka lebih siap melaksanakan tugas-tugas kemasyarakatannya, sekaligus berkontribusi bagi tumbuh kembangnya ekonomi yang sehat dan sejahtera.

 

VISI £€πT€®a :

Terwujudnya Santri Yang Siap Menjadi Garda terdepan di Nusantara

 

MISI £€πT€®a :

Untuk Mencapai VISI tersebut,

1. Keharmonisan Berorganisasi

Farfa bidomin wansiban fathan Wajur # Kasron Kadzikrullohi ‘abdahu yasur

Wajzim Bitaskini Wagoiru Maa dzukir # yanuubu Nahwu jaa akhu bani namir

Pengurus dan anggota haruslah kompak, saling terbuka, membuang hal yang menimbulkan perpecahan, selalu berdoa kepada Allah Swt, dan meneguhkan pendirian dalam istiqamah.

 

2. KONSISTEN

Lirrof’I wannasbi wajarrinasolah # Ka’rif Bina fainana nilnalminah

£€πT€®a harus seperti dhamir muttashil -na yang teguh pendirian dan pemahaman meski dalam keadaan apa pun. Tidak terpengaruh oleh perubahan dan pengaruh aliran-aliran lain.


3. Berusaha Semaksimal Mungkin

Wafikhtiyari Layaziul munfasil # idzaa taAtta ayajiul Muttasil

Dalam keadaan ikhtiyar (tidak kepepet) £€πT€®a tidak boleh mendatangkan dhamir munfasil Selagi masih memungkinkan memakai dhamir muttashil, Alhasil janganlah meminta bantuan orang lain selagi masih bisa dilakukan sendiri dan organisasi.

 

 “Lambang £€πT€®a berupa gambar gentong, Peta dunia, dikitari oleh 9 (sembilan) bintang 9 Satelit, 3 (Tiga) bintang & Satelit terletak melingkari di atas gentong, yang enam bintang  & Satelit lagi terletak di bawah gentong kujang, dan peta., dengan tulisan Lembaga Ekonomi Santri Nusantara, semua terlukis dengan warna hijau, kuning  di atas dasar putih.”

 

Masing-masing memiliki arti seperti berikut :

 

Gambar bola dunia transfaran yang seperti peta melambangkan tempat hidup, tempat berjuang, dan beramal di dunia ini dan melambangkan pula bahwa asal kejadian manusia itu dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Gambar peta pada bola dunia merupakan peta Indonesia melambangkan bahwa  dilahirkan di Indonesia dan berjuang untuk kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia,khususnya dan ummat Islam di Dunia umumnya.

Gentong dan satelit memberikan arti Al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih, wal akhdzu bil jadidil ashlah Sembilan bintang yang terdiri dari lima bintang di atas garis katulistiwa dengan sebuah bintang yang paling besar terletak paling atas, melambangkan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat manusia dan Rasulullah; Empat buah bintang lainnya melambangkan kepemimpinan Khulaur Rasyidin yaitu Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Empat bintang di garis katulisitiwa melambangkan empat madzab yaitu Hanafi, Maliki, S yafii, dan Hambali. Jumlah bintang sebanyak 9 (sembilan) melambangkan sembilan wali penyebar agama Islam di Indonesia.

Warna hijau dan kuning melambangkan kesuburan tanah air Indonesia dan kemakmuran dan warna kuning melambangkan kesejahteraan.

Kujang melambangkan bahwa £€πT€®a Harus mampu menjaga Nusantara 

Garis besar saling mengikat antara warna hijau dan kuning menunjukkan ikatan yang saling memperkuat antar anggota yang sekaligus menunjukkan selalu berpegangan erat dalam suka dan duka untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. 

 

Komentar

Posting Komentar